wHy2Q

Senin, 22 Juni 2009

We Will Not Go Down


semua pada tau kan lagunya michael heart yang "we will not go down" .lagu ini sempat dan masih menjadi list di winampq.mendengar lagu ini pasti akan terenyuh dan ternyata temen2 kuliah ana juga banyak yang suka..

we will not go down

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

ni terjemahannya

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan


Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

posted by wHy2_Q at 12.06 0 comments

Aq Ingin Cuti dari dakwah ini

dapet kiriman artikel bagus dari saudara ana..semoga kita bisa mengambil hikmah dari artikel ini..

Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.
Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata “afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…” atau sms yang berbunyi “afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…” atau kata-kata berawalan “afwan akh…” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan,
bukan???
Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”
Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.
Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewa an yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.
Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “afwan”, “maaf” atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata “afwan”, “maaf” dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.
Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata “afwan” yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata “Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah. Semoga…

posted by wHy2_Q at 12.03 0 comments

Minggu, 21 Juni 2009

Mencari Pemimpin Sejati: Belajar dari Kisah Zulkarnaen


Tanggal 8 juli 2009 masyarakat indonesia akan melaksanakan perhelatan akbar..pemilihan presiden indonesia yang akan dipilih secara langsung oleh rakyat indonesia...3 calon yang telah lolos untk menjadi kandidat capres_cawapres sekarang sedang menyampaikan visi misinya dan erkampanye kepada rakyat..semoga saja mereka tidak hanya memberikan janji-janji palsu kepada rakyat indonesia.. ada banyak sekali permasalahan2 yang terjadi di negeri ini mulai dari masalah pendidikan, seperti kasus di malang, Setiap tahun masyarakat Kota Malang selalu berhadapan dengan ketidakmampuan masyarakat untuk membayar biaya pendidikan yang semakin mahal dan selalu penuh dengan berbagai pungli yang terlegalkan.. Kemudian dibidang kesehatan juga tidak berbeda jauh, masih banyak masyarakat yang sulit untuk mengakses layanan kesehatan secara mudah, baik dan berkualitas..meskipun ada JAMKESMAS tapi belum optimal..anak jalanan yang semakin tahun semakin bertambah di kota malang ini..dan masih banyak permasalahan2 bangsa ini di daerah lain yang belum terselesaikan..apakah kemudian ketiga pasangan ini mampu menjawab dan menyelesaikan masalah2 ini bila mereka nantinya akan terpilih..tugas kita selanjutnya adalah memilih pemimpin sejati, pemimpin yang bermoral dan pemimpin yang berpihak kepada rakyat..


Salah satu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar kehidupan mereka berjalan dengan baik dan lebih baik lagi adalah pemimpin yang baik. Karena itu, kehadiran pemimpin yang baik selalu dirindukan oleh masyarakat, termasuk masyarakat kita sekarang. Yang menjadi persoalan kita kemudian adalah seperti apa pemimpin yang baik itu?. Al-Qur'an ternyata menceritakan tentang banyak pemimpin yang salah satunya adalah Zulkarnain. Belajar dari Zulkarnain, kita bisa menemukan kriteria pemimpin yang sejati, begitu yang dikemukakan Allah Swt di dalam surat Al Kahfi.Dari kisah yang dikemukakan Allah Swt tentang Zulkarnain, kita memang tidak mendapat penjelasan tentang siapa Zulkarnain, dimana tempatnya dan kapan semua itu terjadi. Hal itu memang tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah pelajaran apa yang bisa diambil darinya. Yang jelas, kata Sayyid Quthb, dia bukanlah raja Alexander Zulkarnain yang animisme. Namun Sayyid Quthb juga mengutip pendapat Abu Raihan al Biruni -meskipun bukan sebuah kemutlakan- yang menyatakan bahwa Zulkarnain berasal dari Humair, nama aslinya Abu Bakar bin Ifriqisy. Dia berkelana bersama tentaranya ke pantai laut putih tengah, dia melampaui Tunis dan Maroko, dia membangun kota Afrika hingga benua itupun disebut Afrika. Dia dijuluki dua tanduk (bukan karena kepalanya bertanduk,red) tapi karena dia berhasil mencapai dua tanduk matahari, yakni Timur dan Barat. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tangkap dari kisah Zulkarnaian, khususnya dalam konteks kepemimpinan yang sangat kita dambakan adanya pemimpin yang mulia sehingga membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa.
1. Berkuasa Tapi Tidak Sombong.
Zulkarnain adalah raja yang memiliki kekuasaan yang besar dengan tentaranya yang kuat sehingga ia bisa mengembara ke Timur dan ke Barat, namun dengan kekuasaannya itu ia tidak menyombongkan diri. Sayyid Quthb menyatakan bahwa Zulkarnain menuju kearah Barat hingga sampai ke satu titik di pantai Samudera Atlantik yang dinamai dengan Laut Gelap. Ia menganggap telah mencapai akhir daratan di titik itu dan melihat matahari tenggelam di situ, Allah Swt berfirman: Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka diapun menempuh suatu perjalanan. Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam (QS 18:84-86).Ketika ia mendapati segolongan umat yang telah pasrah kepadanya, ia justeru tidak berniat untuk menzalimi mereka dan mengambil keuntungan duniawi dari mereka, padahal Allah Swt memberikan pilihan kepadanya mau berbuat baik atau buruk. Namun ia justeru mengajak mereka kepada iman dan amal shaleh, Allah Swt berfirman: dan dia mendapati disitu segolongan umat. Kami berkata: Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Zulkarnaian: adapun orang yang menganiaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang yang beriman dan beramal shaleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya (QS 18:86-91)
2. Melayani Rakyat
Pemimpin yang baik adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, karena Zulkarnain yang memiliki kekuasaan menunjukkan klasnya sebagai pemimpin yang sejati dengan melayani dan melindungi rakyatnya, bahkan tanpa meminta pembayaran sekalipun meskipun mereka mau membayarnya. Hal ini nampak ketika dalam pengembaraannya, Zulkarnaian mendapati suatu umat yang sangat terbelakang sehingga mereka hampir tidak mengerti pembicaraan, bahkan mereka sendiri dalam keadaan terancam dari Ya'juj dan Ma'juj yang suka melakukan kerusakan di muka bumi. Maka Zulkarnain melibatkan semua komponen masyarakat untuk membangun tembok yang sangat kuat yang terbuat dari besi dan tembaga yang dibangun diantara dua gunung dengan ketinggian mencapai puncak gunung sehingga tertutup bagi Ya'juj dan Ma'juj untuk memasuki wilayah penduduk itu sehingga keberadaan (eksistensi) mereka bisa dipertahankan. Dengan keberhasilan itu, Zulkarnain tetap menyadari kelemahannya karena semua itu adalah karunia Allah Swt, Allah Swt menceritakan hal ini dalam firman-Nya: Kemudian dia menempuh jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai diantara dua buah gunung, dia mendapati dihadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: Hai Zulkarnain: sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya membuat dinding antara kami dan mereka?. Zulkarnain berkata: Apa yang telah dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat) agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi telah sama rata dengan dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: "Tiuplah (api itu)" hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu". Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Zulkarnain berkata: Ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah dating janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar (QS 18:84-98).
3. Menegakkan Keadilan, Memberantas Kezaliman
Kesediaan Zulkarnain membangun tembok yang kuat dari besi dan tembaga guna melindungi masyarakat dari ganguan Ya'juj dan Ma'juj menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang sangat memberi perhatian kepada rakyat untuk memperoleh keadilan dan terbebas dari segala bentuk kezaliman. Oleh karena itu, para pemimpin dari level terendah hingga level tertinggi seharusnya berupaya untuk menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang melakukan kezaliman.Pemimpin yang menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman akan dikenang sepanjang masa sebagai pemimpin yang baik, begitulah yang dialami oleh Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang memimpin tidak sampai tiga tahun dan tidak diabadikan di dalam Al-Qur'an, namun sejarah tidak melupakan jasanya dalam memimpin sehingga keadilan yang ditegakkan dan kezaliman yang diberantas membuat kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya tercapai hingga pada masanya sulit untuk mencari mustahik (orang yang berhak menerima zakat).
4. Berorientasi Pada Kebaikan
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu Zulkanain mengarahkan masyarakat yang didatanginya dalam pengembaraan untuk beriman dan beramal shaleh. Mereka dilibatkan dalam kerjasama yang baik ketika membangun tembok pertahanan sehingga keamanan yang menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat bias terwujud.Sekarang ini kita sangat mendambakan kehadiran pemimpin yang berorientasi pada kebaikan, kebaikan menurut Allah dan Rasul-Nya. wie (dari berbagai sumber)


posted by wHy2_Q at 13.26 0 comments